Category Archives: Puisi

Kumpulan Puisi Avianti Armand : Buku Tentang RuangΒ 

Di instagramku , Dhifeverest bertanya : 

Apa yang menarik di buku tentang ruang?

Ini adalah buku kumpulan puisi dari seorang Avianti Armand yang berprofesi sebagai arsitek dan dosen tamu di Universitas Indonesia. Yang membuatku tertarik untuk menengok buku kumpulan karya lain selain dari kumpulan puisi milik Sapardi Djoko Damono dan Chairil Anwar. Dua maestro puisi ini adalah favoritku. 😊 

Buku ini berisi 4 bagian : 

Ruang Yang Mungkin 

Berisi tentang keadaan lingkungan sekitar. Hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan. Dan tentang dirinya sendiri. Pada bagian ini, aku suka puisi : 

Bulan. Kota yang jauh. Sungai hitam.
Menit yang luntur oleh hujan. Jalan yang tinggal separuh. Batu-batu dari momen beku.
Dinding-dinding keruh. Jendela-jendela. Ruang-ruang dibaliknya kosong.
(Hantu Waktu, halaman 17)

Ruang Yang Jauh 

Ketika tiba di bab ini dan bolak balik setiap halamannya. Pengarangnya suka dengan film karya dari Wong Kar Wai yakni 9000 Km To Give You This, There’s Only One Sun, dan The Days Of Being Wild. 

Bolehkan aku melihatnya dari ketinggian di atas awan, dari ruang angkasa melalui matahari dan juga dari memori yang tercatat dalam buku harian. 

Yang hilang dari pagi adalah mimpi kehilangan.

“Cinta,” katamu,
“lebih baik tidak diucapkan.Atau dia akan lenyap.”
(Seperti Biasa, halaman 57-59)

Ruang Yang Sebentar

Menunjukkan waktu yang sebentar. Yang hanya sesaat tapi memberikan manfaat dan andilnya dalam kehidupan setiap orang yang memiliki pengalamannya masing-masing. Seperti yang ditunjukkannya pada Muppet Show, Circa-1980 dan Sesame Street, Circa 2000. Dan aku suka banget sama puisi di bagian : Hal-Hal Yang Wajar Hari-Hari ini dari halaman 111-113 

Halaman 111Halaman 112-113

Ruang Tunggu

Berbicara tentang manusia juga sudut-sudut yang tak terduga. Yang sudut pandangnya pun tidak aku mengerti. Seperti yang ditunjukkannya dalam : 

Memori adalah kereta yang sebentar singgah sebentar pergi dengan imaji yang disekap dalam keras kursi-kursi besi. Dan hijau yang selalu hadir adalah tiang baja pada struktur pintu-pintu stasiun yang kerap lupa menutup.
(Musim, halaman 146)

Nah itulah 4 bab yang aku bahas dengan singkat. Di kemas dalam 155 halaman ini. 

Sekali lagi, mengapa aku memilihnya di antara sekian banyak buku puisi yang berderet di rak buku Gramedia Matraman? 

Karena aku tertarik dengan covernya yang putih bersih, ilustrasi yang dibuat oleh pengarangnya sendiri, kata-kata yang sederhana. Tidak serumit kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono dan Chairil Anwar. 

Dan ya.. mencoba melihat jendela puisi dari pengarang ini membuat mataku terbuka. Walaupun buku ini sudah terbit setahun yang lalu dan yang ada ditanganku masuk cetakan ketiga Maret 2017.

Harga buku yang membuatmu  merogoh dompet Rp 55.000 (harga 2017) jika ingin memilikinya dan beruntungnya aku mendapatkan diskon 30% di #haribukunasional. 😍

Kloplah kalau buku puisi ini menjadi buku kumpulan puisi favoritku tahun ini 😊😍

Ngomong-ngomong…kondisi bukunya jadi gembel dibawa-bawa dalam tas selama hampir 2 minggu πŸ˜ŠπŸ˜„πŸ˜…

Leave a comment

Filed under #Buku&Timbunan, Puisi