Category Archives: #JelajahMasjid

Masa Lalu, Mengingat Kematian Dan Kemegahan Yang Luas

Sabtu, 19 Maret 2016

Ini merupakan trip ke enam saya sejak bergabung dalam Komunitas Backpaker Jakarta Klub Jelajah Masjid (Trip JM ke-5 tulisannya entah ada dimana…). Kali ini Klub Jelajah Masjid menyambangi 3 masjid di daerah Tangerang yakni Masjid Kalipasir, masjid tertua di Tangerang, Masjid Agung Nurul Yaqiin atau biasa dikenal sebagai Masjid Seribu Pintu dan Masjid Raya Al-Adzom dengan kubah terbesarnya.
I.Masjid Kalipasir
masjid-kalipasir
Foto di dukung : BPJ JM
Masjid Kalipasir merupakan masjid tertua di Tangerang dari peninggalan kerajaan Padjajaran. Di apit di dalam perkampungan Tionghoa. Masjid yang terletak sekitar 1,2 Km dari stasiun Tangerang, satu kilometer di belakang Masjid It-Tihad, satu kilometer dari pasar lama Tangerang. Masjid kalipasir bisa di tempuh dengan jalan kaki selam 15 menit saja. Masjid ini terletak di Kali Pasir, RW 04, Kota Tangerang, Banten. Masjid ini berdiri di atas tanah hitam bila menyentuh kaki tanah ini tidak akan menempel.
Masjid ini masih memiliki peninggalan yang masih ada lebih dari tiga abad lalu yakni :
1. Empat tiang penyangga masjid
Tiang yang terbuat dari kayu jati asli yang masih tersisa dengan kondisi sangat rapuh.     Saat ini tiang-tiang tersebut disanggah oleh Stainless Steel. Karena setelah dikembalikan kebentuk aslinya. Tiang tersebut tidak menempel ke bumi kurang lebih 15 cm.
2. Kubah yang berbentuk ukiran mawar.
Terbuat dari tanah hitam. Karena terkikis oleh usia dan cuaca banyak bagian kubah yang terlepas. Untuk mencegahnya, pihak masjid mewarnainya.
3. Komplek makam tua
Para Tumenggung yang memimpin KeAriaan di Tangerang yang pernah menetap di Kalipasir dimakamkan di Masjid Kalipasir. Makam tua yang bentuk awalnya berundak-undak seperti tangga. Saat ini bentuk makam sudah tidak seperti aslinya karena tergerus oleh pembangunan pelebaran jalan. Jadi, kita tidak bisa melihat kemegahan makam seperti aslinya.
4. Bentuk mimbar yang langsung mengarah kiblat.
Persebaran islam di Tangerang melalui jalur transportasi laut. Sungai Cisadane sebagai salah satu tulang punggung perdagangan membawa misi penting pada masa islam masuk ke daerah Tangerang.
II. Masjid Agung Nurul Yaqiin atau biasa dikenal sebagai Masjid Seribu Pintu
masjid-pintu-seribu
Foto di dukung : BPJ JM
Terletak di Kp.Bayur Priuk Jaya Jati Uwung Dati II Tangerang. Untuk yang menggunakan transportasi publik terutama kereta api. Turunlah di Stasiun Tangerang dan bertanyalah kepada supir-supir angkot yang berhenti di depan stasiun. Mereka akan menunjukkan jalur angkotnya dengan sangat ramah.
Masjid yang belum selesai di bangun ini dari luar tampak seperti bangunan tak terawat yang berdiri di luas tanah lebih dari 6.500 meter. Tetapi dalam bangunan masjid yang tampak tak terawat ini menyimpan harta karun tak terhingga.
Harta karun yang di mulai dari salah satu pintu yang dasarnya terlihat indah tetapi bagian atasnya belum selesai di bangun. Ya.. satu pintu masuk menuju lorong-lorong tanpa putus yang mengingatkan saya pada Gua Sunyarangi, Cirebon bersama BPJ: City Tour Cirebon, Agustus 2015. Ketika memasuki pintu masuk ini, maka,dimulailah perjalanan di lorong dalam Masjid Seribu Pintu. Lorong tersebut hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Ketinggian lorong yang terkadang tinggi terkadang rendah, gelap gulita, pengap, dingin seakan membuat bulu kuduk merinding, ketakutan dan putus asa mewarnai perjalanan saya dalam lorong ini karena tak tahu kapan berhenti. Dan ketika tiba waktunya berhenti, kami di bawa ke tempat ruang yang agak besar. Ruang ini biasa di pakai oleh Al Faqir untuk berzikir.
Oleh pemandu masjid, di dalam ruang yang gelap, rendah, dingin dan pengap (seperti penjara bawah tanah di museum Fatahillah) kami dibuat untuk merenung sejenak mengingat kematian, mengingat mereka yang telah berpulang, mengingat apa yang telah diberikan oleh kehidupan dan bagaimana sikap sehari-hari kita ketika kematian datang tanpa di undang, di dalam ruangan tersebut seperti menyelami hati yang telah disibukkan dunia untuk mengupas kesalahan selapis demi selapis tanpa pernah malu dengan teman di sebelah kita. Karena disinilah kita diingatkan untuk menyadari kealpaan dan siapa diri kita sebagai khalifah di muka bumi sebelum menghadap kepada-Nya.
Pintu-pintu dan lorong-lorong yang tiada putusnya, makam keramat Syekh Ami Al-Faqir Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam, tiang-tiang tinggi yang menghiasi sekeliling masjid yang dibeberapa bagian ada tertera asmaul husna, dan bila di lihat dari belakang, masjid ini seperti kastil-kastil tua dari negara Inggris Raya. Jadi, jangan heran apabila menemukan arsitektur yang agak mirip kebudayaan dari masa lampau.
III. Masjid Raya Al-Adzom
masjid-raya-al-azom
Foto di dukung : BPJ JM
Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat kota Tangerang ini terletak di Jl. Satria Sudirman No. 1 Rt. 001 Rw. 02 Kel. Suka Asih Kec. Tangerang, Kota Tangeran Provinsi Banten merupakan salah satu masjid dengan kubah terbesar di dunia. Saya di buat takjub ketika melihat masjid ini. Perasaan saya seperti melihat keadaan yang bagaikan langit dan bumi setelah jelajah Masjid Seribu Pintu. Warna lima kubahnya yang biru seperti kerang dan masjid yang berdiri di luas di atas tanah 14.000 meter sungguh membuat kaki saya ingin menelusuri luasnya masjid.
Masjid yang terang benderang oleh cahaya lampu dan cahaya matahari yang masuk dari jendela, langit-langit kubahnya yang dihiasi oleh kaligrafi, lorong-lorongnya yang seperti di Masjid Cordova, Spanyol, lantai marmer yang dingin dan sejuk membuat saya ingin rehat didalamnya walaupun sejenak.
Merenungkan perjalanan Jelajah masjid kali ini seakan membawa pesan untuk diri saya sendiri untuk tidak melupakan sejarah masa lalu dan selalu menjaganya, menghargai perbedaan budaya dan menghargainya dalam keharmonisan, luasnya masjid berbanding terbalik dengan sedikitnya jamaah yang datang ke masjid ketika masuk waktu sholat. Kemanakah mereka? Apakah mereka tidak mendengar seruan-Nya? Dan ingat selalu kematian dimanapun berada dengan berzikir kepada-Nya. Karena kita tidak tahu kapan kematian akan datang dan menjemput diri kita ketika waktunya telah tiba…
Advertisements

Leave a comment

Filed under #JelajahMasjid, Uncategorized

Jelajah Masjid, Kembali Ke Alam

Minggu,13 Desember 2015.

Jelajah Masjid Part 4 , Kembali Ke Alam

Awalnya.., saya tidak mau ikut. Karena ada teman yangg mengajak.. ya udh ikut deh.. padahal badan tuh sedang tidak fit untuk jalan-jalan jauh ini disebabkan oleh kesibukan yang sudah hampir 1,5 bulan dijalanin setiap minggu yang sangat-sangat padat luar biasa. apalgi setelah event besar yang  benar-benar menguras tenaga…
Jelajah Masjid kali ini mengunjungi daerah Karawang. Mengunjungi Masjid Agung Karawang, Curug Cigentis dan mampir k Masjid Aliyah.
Masjid Agung Karawang adalah tempat bermulanya Islam disiarkan pertama kali (untuk daerah Jawa Barat) karena Masjid ini adalah tempat pertama kalinya Raja Padjajaran memeluk Islam.
Di area masjid ini juga terdapat makam anak pertama dari Raja Padjajaran.
sayang banget masjid ini tidak di eksplore dengan detail karena waktunya cuma 30 menit doangggg
*padahal sejarahnya sangat panjang unutk sebuah masjid tua*
Ntar,mau explore sendiri kalau punya wkt lbh byk.. hufttt

Pkl 11.00 wib menuju Curug Cigentis.
perjalannya tuh bener-benar sangat jauhhh…….
makan waktu 1,5 jam perjlanan. lelah sangat..
jalanan yang berliku-liku, menanjak turun bukit, sempitnya jalan yang dilalui, hampir tidak muat untuk dilalui bis  ukuran 3/4 isi 30 org.
Rekomen deh kalau ketempat ini bawa mobil pribadi atau motor akan lebih enak. karena jalurnya memang rekomen untuk dua kendaraan tersebut
Jangan kaget  kalau ke Curug Cigentis bakalan ketemu sama para tentara-tentara muda yang sedang dalam masa pendidikan. Karena lokasi Curug Cigentis bersebelahan dengan hutan Sangga Buana yang memang terkenal untuk latihan perang.
Dan jangan kaget pula…kalau tidak menemukan pohon-pohon hijau di kiri kanan jalan sepanjang treking selama 1,5 jam. Di sekeliling Curug Cigentis sudah banyak rumah beton yang sangat rapat.

Jangan takut kelaperan dan kehausan  karena sepanjang treking banyak rumah penduduk yang menjual makanan dan minuman untuk melepas lelah.
Kondisi treking ke Curug Cigentis lumayan mulus untuk di lalui tidak separah treking ke wilayah Baduy.
Jalan-jalanan  terjal dan menanjak bisa dihitung pakai jari dalam wkt 1,5 jam.
untuk yang amatiran, treking ini mungkin bakalan menguras napas dan keringat sampai bercucuran.
kalau yang sudah profesional (alias sudah biasa nanjak gunung-gunung tinggi) treking ini termasuk mudah.

Curug Cigentis memiliki ketinggian air 25 meter. Air yang lumayan (karena di Karawang baru masuk musim hujan, waktu saya berkunjung ya..) debit airnya menurut saya masih kurang WAH. tapi suhu air di Curug Cigentis setara dengan suhu air di Curug Naga.

Disarankan untuk mengunjungi Curug Cigentis pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau.
karena pemandangan dan air yg tumpah dr ketinggian bakalan terlihat spektakuler!

*menurut pandangan yg menulis bila dilihat dr sekeliling hutan yg menaungi Curug Cigentis*
Karena kondisi fisik saya yang sudah sangat kelelahan dan kurang fit! Saya memutuskan untuk merebahkan diri di pinggiran curug… oh iya.. yang patut di ingat dan supaya tidak sakit hati.. dilarang untuk menerima post atau foto dari curug lain. Karena ketika saya ada di curug cigentis, di saat yang bersamaan.. adik saya membagikan foto dari Curug Kencana, Bogor yang pemandangannya benar-benar spektakuler.

Dan yang akan menjadi suatu kebiasaan dikemudian hari untuk diri saya sendiri yakni setiap pergi ke Curug, suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian, bertalu-talu pelan seperti menyihir saya untuk terlelap sejenak.

Maaf, fotonya tidak ada.. ada di dalam kamera teman yang mengajak saya 😛

Dan saya pun lupa untuk menagihnya hahaha

Leave a comment

Filed under #JelajahMasjid

Masjid Kubah Emas, Sawangan Depok

Minggu,18 Oktober 2015

Jelajah Masjid Part 3 yakni Back To Al-Qur’an itu yang saya lihat dan rasakan dari perjalanan dari jelajah kali ini.

masjid-kubar-emas-dari-kejauhan
Masjid Kubah Emas, Sawangan Depok

Masjid Dian Al Mahri atau biasa disebut Masjid Kubah Emas terletak di Jl. Meruyung, Limo, Depok. Masjid ini  mampu menampung 20.000 jamaah, memiliki 5 kubah, 6 menara. Info ini saya dapatkan dari situs Wikipedia. Karena tidak tersedia guide untuk untuk menjelaskan sejarah masjid. Maka, saya menjelajah sendiri.

Masjid dengan aulanya berdiri terpisah. Tidak bergabung seperti masjid-masjid lainnya. Ruang masjid dan ruang aula dengan langit-langit yang tinggi, jendela-jendela yang tinggi membuat sirkulasi udara ketika cuaca panas akan membawa kesejukan tersendiri. Semua bangunan dalam komplek masjid mayoritas memakai marmer. kalau cuaca sangat panas di siang hari, saya menyarankan untuk memakai kaos kaki kemanapun melangkah di dalam komplek masjid ini. Marmernya ketika terpapar sengatan matahari akan sangat luar biasa panas. Ruang kamar mandinya banyak silahkan gunakan mau memakai yang mana saja, ruang penyimpaan sepatu ada di lantai dasar di bawah tempat wudhu wanita. yang menjadi pertanyaan.. mengapa ruang wudhu tidak digabung dengan ruang penitipan sepatu seperti di masjid-masjid lain? Ini menjadi tidak praktis buat saya..

tiang-tinggi-bangunannya

Ruangan serba guna. Lihat kemegahannya dan lihat pula kegiatan yang ada didalamnya..

Lorong-lorong masjid luarnya seperti lorong masjid di Cordova, Spanyol.( Di kemudian hari saya akan melihat lorong-lorong seperti ini di Masjid Al-Adzhom, Tangerang). Pohon-pohon di sekitar komplek masjid masih belum tumbuh dengan rindang, masih gersang untuk komplek masjid yang luasnya hampir 50 hektare. Panas membara di puncak musim panas. Es kelapa yang dijual di sekitaran komplek masjid tidak berasa rasa dingin es hehehe..

lorong-masjid

Lorong ini mirip (sekilas) dgn lorong di Masjid Cordoba, Spanyol. Pengunjung lain boleh suka sama kubahnya.. tapi kalau saya suka sama lorong ini

Yang juara di masjid ini adalah kubahnya! Iya.. kubahnya…!! kubah dalamnya itu seperti  melihat kubah-kubah bangunan klasik di Italia atau Vatikan. Bedanya di dalam kubah masjid ini tidak ada gambar cupid atau dewa asmara pembawa panah aprodite hahaha..

Tugas Yang menanti di Part 3.

Setelah puas berkeliling.. ada tugas yang menanti.. iya.. tugas yang diberikan oleh para mimin jelajah masjid.

Jalan-jalan tidak selalu hanya melihat keindahan. Tetapi juga perjalanan untuk menapaki hati. Sudah berapa lama hati tak tersentuh gema atau pun kalimat-Nya? Seperti perjalanan kali ini yang cukup membuat saya sukses untuk membuka Al-Qur’an dan menampaki jalan sedikit demi sedikit untuk mengingat kembali rasanya sekolah.

Setelah meninggalkan bangku sekolah hampir 15 tahun lamanya.. Berpacu dengan waktu..  itulah yang saya rasakan. Iya..,mimin memberikan tugas hapalan surat. Oh.. jangan di tanya.. ini ibarat membuka kamus berdebu. Karena selama mengaji di pengajian mushola dekat rumah, saya tidak pernah menghapal surat panjang-panjang hahaha

 

1 Comment

Filed under #JelajahMasjid

Masjdi Istiqlal, Masjid Kemerdekaan

Hampir setiap hari, semua warga yang melintasi Jl. Juanda,Jakarta akan melewati masjid ini. Apalagi kalau kantornya berada di sekitaran Harmoni atau Juanda Raya. Masjid yang terletak Jl. Wijaya Kusuma, Jakarta bisa di tempuh dengan transjakarta atau kereta dengan turun di stasiun juanda.

Kali ini saya  menjelajah bersama teman-teman dr Backpaker (BPJ) Jelajah Masjid  (JM) ke Masjid Istiqlal. Acara jelajah ini berbarengan dengan acara Milad OUN #1 (One Day One Juz Untuk Negeri). Jadi sebelum trip JM dimulai, semua peserta mengikuti acara OUN.
Trip di mulai pkl 16.00 dn berakhir pd pkl 19.30. Yukk sekilas membahas masjid yang pernah menjadi masjid terbesar di negara Asia Tenggara.

Masjid Istiqlal bisa menampung 200ribu jamaah, bangunannya dibuat dari marmer dan baja, tdk menggunakan kayu, AC utk ruang aula utama. Aula utama itu dimulai dari aula yg berkarpet merah sampai dengan lt. 5. Utk menggunakan ruangan aula besar ini infaq +/- 30jt (Info 30 Agustus 2015). Ruang pendahuluan yaitu lantai 1 dr pintu Al Fatah. Lantai ini satu2-satunya yang menghadap langsung ke arah kiblat. Bedug besar, emper besar yang bisa digunakan untuk acara-acara keagamaan infaq +/- 5jt per hari, lorong2 emper yg d lapisi karpet merah, menara masjid, dn spot2-spot favorit untuk berpose.

Ah iya.. ada katerdal di seberang masjid Istiqlal (dilihat dari pintu Al Fatah). Itu menandakan Islam adalah agama yang damai. Dan satu lagi, kubah masjid Istiqlal sudah di patenkan di Jerman oleh arsitekny Frederich Silaban. Jadi jangan heran, kalau suatu saat berkunjung ke masjid Istiqlal banyak wisatawan mancanegara yang hanya untuk sekedar foto Kubah masjid ini atau sekedar menjelajah masjid tersebut.  Karena masjid ini sudah tersohor di luar negeri.

kubah-masjid-istiqlal
Kubah Masjid Istiqlal yang dipatenkan di Jerman. (Foto by: mba Nuri Yanti)

lorong-masjid-istiqlal

Lorong/Emper..

spot-cantik-di-masjid-istiqlalIni adalah spot cantik para pelancong..

sarang-lebah

Guide : Jendela Sarang Lebah
Jendela ini mengikuti bangunan sarang lebah. Gunany untuk sirkulasi udara. Karena Masjid Istiqlal tidak menggunakan AC untuk pendingin ruangan sepanjang bangunan ini.
AC hanya digunakan di ruang utama.
Sirkulasi angin ini menggunakan perhitungan dalam kalibrasi tekanan.

1 Comment

Filed under #JelajahMasjid

Empat Masjid Yang Menyandang Nama Besar

Ramadhan, 5 Juli 2015, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan  komunitas BPJ (Backpacker Jakarta). Dan ini pula pertama kalinya Klub Jelajah Masjid berdiri.

1.Masjid Cut Meutia,

Terletak di Jl. Cut Meutia No. 1 (200 meter dr Sta.Gondangdia)
Masjid ini termsk dalam cagar budaya DKI.  Memiliki sejarah yang sangat panjang sebelum akhirnya menjadi masjid. Nama Cut Meutia sendiri di ambil dari seorang nama besar di Aceh. Yang menjadi ciri khas masjid ini adalah bentuk kubahnya, arah kiblatnya yang membentuk sudut 45 derajat dan wanginya sajadah masjid ketika setiap awal sholat tiba.

2. Masjid Cut Nyak Dien
Terletak di Jl. Kemiri raya dari stasiun gondangdia +/- 500 meter.  Dari Masjid Cut Meutia cukup di tempuh 10 menit jalan kaki. Krn masjidnya tetanggaan.  Masjid ini di buat untuk menampung pekerja yang bekerja di sekitar masjid

3. Masjid Al Ma’mur atau biasa disebut Masjid Cikini 

Terletak Jl. Raden Saleh Raya RT 3 Rw 3, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Persis dpn McDonalds.
Masjid ini berdiri sejak tahun 1840. Awalny hanya berupa masjid tandu yg bs di pindah kemanapun. Masjid ini merupakan salah satu dr masjid tertua yg ada d Jakarta dn dikelilingi oleh 5 gereja d sekitarny. Dilewati oleh transportasi publik Metromini 17 jurusan Senen – Manggarai. Keunikan masjid ini adalah bangunan utama yang masih terlihat keasliannya, 5 tiang penyangga di aula utama, undak-undakan yang menghubungkan ruang lama dengan ruang yang baru untuk menampung para jamaah setiap sholat Jum’at. Ada mitos yang menyertai masjid ini untuk bertafakur di dalamnya.

4.Masjid Agung Sunda Kelapa

Jl. Taman Sunda Kelapa No. 16, Menteng, Jakarta Pusat. Dkt taman sunda kelapa, di seberang taman suropati dn d belakang gereja. Mampun menampug jamaah lebih dari 4 ribu orang. Menara masjid yang berupa perahu dan tidak memiliki kubah yang dihiasi bintang dan bulan seperti masjid kebanyakan, masjid ini termasuk muda kalau dilihat dari berdirinya sejak 1970. Tetapi memiliki organisasi remaja masjid yang mumpuni. Bagaimana tidak.., masjid ini selalu memiliki jadwal yang sangat padat oleh ulama-ulama yang mengisi acara di dalamnya baik di bulan Ramadhan maupun diluar bulan ramadhan. Tempatnya yang strategis menjadikannya mudah di jangkau untuk di datangi. Cukup naik angkutan umum kopaja P.20 jurusan Senen-Lebak Bulus dn PPD 213 jurusan Kp.Melayu-Grogol kita sudah sampai di halaman masjid. Oh iya… kalau ingin ke masjid ini harus menyebutkannya dengan lengkap. Kalau tidak lengkap kita bisa tersasar sampai ke pelabuhan Sunda hahaha

1 Comment

Filed under #JelajahMasjid